Kawasan Industri Hijau, Ambisi Global, dan Realita Lokal: Siapa yang Siap Berubah?

by | May 8, 2025 | Uncategorized

Taifa Industrial Park Ungkap Tantangan Nyata Transformasi Industri Menuju Net Zero

BANDUNG, 02 Mei 2025 – Kawasan industri bukan lagi sekadar tempat produksi. Ia kini berdiri di garis depan medan tempur iklim global. Tetapi pertanyaannya: siapa yang benar-benar siap berubah?

Dalam diskusi kolaboratif antara World Resources Institute (WRI) Indonesia, BP Rebana, dan pengelola kawasan seperti PT Taifa Jaya Development, muncul satu pesan jelas: dekarbonisasi bukan hanya pilihan, tapi keniscayaan—dan ini akan mengubah peta kekuatan industri.

“Kami tidak ingin kebijakan keberlanjutan jadi beban yang hanya ditanggung tenant. Harus ada mutual appreciation, bukan instruksi satu arah,” ujar Pak Reynaldi, perwakilan dari PT Taifa Jaya Development.

Sementara kawasan industri disorot sebagai kontributor besar emisi karbon nasional—menyumbang 34% dari seluruh emisi melalui konsumsi dan produksi—fakta di lapangan jauh dari hitam-putih. Banyak pengelola bahkan belum memiliki target net zero yang jelas. 

Ini bukan soal kemauan semata, tapi juga soal realita kapasitas teknis dan ekonomis.

 

Perubahan besar selalu menimbulkan ketegangan
Di satu sisi, konsumen dan investor menuntut praktik bisnis berkelanjutan—dengan 68% konsumen global bersedia membayar lebih untuk brand hijau.
Di sisi lain, banyak kawasan masih beroperasi di bawah paradigma lama, khawatir bahwa transisi berarti kehilangan daya saing.

WRI dan BP Rebana pun mendorong pendekatan transformatif namun fleksibel lewat kerangka kerja konkret:

  1. Dekarbonisasi Estate Regulation – regulasi kawasan yang ramah iklim
  2. Penguatan Kapasitas Tenant & Pengelola – seperti sesi pelatihan hari ini
  3. Referensi Internasional & Domestik – untuk menjembatani ambisi global dengan konteks lokal

     

Jadi, siapa yang akan memimpin perubahan ini?
Perusahaan multinasional seperti Unilever dan Heineken telah memaksa para mitra lokal mereka bergerak menuju net zero. Sementara itu, hanya 2 dari 30+ perusahaan Indonesia yang telah memvalidasi target net zero mereka. Terlalu sedikit untuk sebuah negara sebesar Indonesia.

Namun peluangnya justru besar:

“Mereka yang berani menjadi pelopor justru akan mendapat kepercayaan publik, penghematan biaya, dan posisi tawar yang lebih tinggi di masa depan,” ujar perwakilan dari WRI Indonesia.

Di tengah tantangan ini, PT Taifa Jaya Development, pengelola Kawasan Taifa Industrial Pak, mengambil langkah berani: menyusun pedoman kawasan, menyelaraskan visi manajemen, dan membuka ruang dialog dengan tenant secara transparan.

Indonesia butuh lebih banyak Taifa-Taifa lain—yang siap belajar, berkolaborasi, dan menyusun ulang model bisnis kawasan industri dari nol demi masa depan yang hijau dan berdaya saing.