BANDUNG, 02 Mei 2025 – Dalam upaya menghadirkan model kawasan industri masa depan yang tidak hanya kompetitif secara ekonomi, tetapi juga selaras dengan agenda lingkungan, Badan Pelaksana (BP) Kawasan Rebana bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia menggelar sesi penguatan kapasitas bertema Transformasi Menuju Kawasan Industri Hijau dan Rendah Karbon. Acara ini merupakan bagian dari kolaborasi strategis dalam menyusun Kerangka Dekarbonisasi, Rekomendasi Peraturan Kawasan, dan penguatan kapasitas bagi para pengelola kawasan industri di wilayah Rebana.
Kawasan industri kini tidak lagi cukup hanya menjadi ruang produksi. Ia dituntut berperan aktif memperkuat ekonomi lokal, mendatangkan investasi berkelanjutan, dan menjadi garda terdepan dalam menghadapi krisis iklim. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk mengeksplorasi tiga isu utama:
(1) Seperti apa bentuk konkret kawasan industri hijau dan bagaimana memulainya?
(2) Apa langkah awal yang diperlukan untuk transisi menuju kawasan industri rendah karbon?
(3) Apa saja contoh terbaik dari Indonesia dan dunia dalam membangun kawasan industri berkelanjutan?
“Kolaborasi ini adalah bagian dari mimpi besar kami menciptakan model bisnis transformatif yang tidak hanya unggul secara ekonomi, tetapi juga berdampak nyata bagi lingkungan,” ujar Arief Utomo, Senior Lead Engagement untuk Energi dan Bisnis Berkelanjutan di WRI Indonesia. Selain penguatan kapasitas, kerja sama ini juga menghasilkan dokumen-dokumen strategis yang dapat digunakan sebagai acuan penyusunan regulasi dan kebijakan kawasan.
“Kita tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu. Kawasan industri di Rebana harus tumbuh dengan tata kelola yang cerdas, kolaboratif, dan berorientasi masa depan,” tegas Bernardus Djonoputro, Kepala BP Rebana dalam sambutannya.
Iklim Global Mendorong Urgensi Dekarbonisasi
Sejak disahkannya Perjanjian Paris tahun 2015, Indonesia telah menetapkan target pengurangan emisi sebesar 32% secara mandiri dan 43% dengan dukungan internasional pada 2030. Target Net Zero Emission ditetapkan tercapai pada tahun 2060.
Faktanya, 34% emisi gas rumah kaca di Indonesia berasal dari aktivitas konsumsi dan produksi industri. Tidak aneh jika memang sektor ini memainkan peran sentral dalam pencapaian target nasional. Risiko fisik dan transisi akibat krisis iklim, seperti cuaca ekstrem, regulasi ketat, serta tuntutan konsumen dan pasar, turut mendorong pentingnya transformasi model bisnis industri ke depan.
Perubahan Perilaku Konsumen dan Tekanan Investasi
WRI mengungkapkan 78% konsumen global kini menyatakan bahwa gaya hidup berkelanjutan itu penting, dan 68% bersedia membayar lebih untuk produk yang ramah lingkungan. Di Indonesia, baru 40% konsumen menyatakan kesediaannya untuk membayar lebih untuk produk yang lebih hijau, termasuk produk lokal. Tekanan ini turut diperkuat oleh regulasi internasional, seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dari Uni Eropa, serta komitmen iklim dari negara-negara besar seperti Inggris dan AS.
Dari sisi pendanaan, lembaga-lembaga seperti HSBC, Asian Development Bank (ADB), dan BCA telah menyiapkan ratusan miliar dolar untuk mendukung proyek-proyek berorientasi pada transisi energi dan adaptasi iklim.
Indonesia Butuh Pelopor Dekarbonisasi Industri
Hingga saat ini, lebih dari 30 perusahaan di Indonesia telah berkomitmen terhadap target net zero, dua di antaranya bahkan telah memvalidasi target mereka secara ilmiah. Perusahaan multinasional seperti Unilever, Adidas, dan Heineken juga turut mendorong percepatan dekarbonisasi melalui rantai pasoknya, yang berpengaruh hingga ke sektor industri nasional.
“Industri pelopor akan memperoleh banyak keuntungan: mulai dari peningkatan reputasi, menarik kepercayaan investor, hingga peluang inovasi dan bisnis hijau baru. Sebaliknya, yang tertinggal akan menghadapi risiko regulasi, kehilangan daya saing, bahkan penguncian teknologi yang usang,” ujar Arief, dalam pemaparannya.
– – –
Sesi penguatan kapasitas ini merupakan langkah awal untuk mendorong pemahaman kolektif dan penyusunan roadmap dekarbonisasi kawasan industri. Dengan adanya panduan teknis dan model bisnis transformasional, diharapkan kawasan Rebana dapat menjadi pionir kawasan industri hijau yang menginspirasi wilayah lain di Indonesia.